Kamis, 16 Oktober 2014

Laporan Usaha Game Grameen Bank (Tugas IMF)

Game Grameen Bank adalah salah satu permainan yang dimainkan oleh mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah IMF (Introduction To Micro Finance). Game ini terinspirasi oleh Pendiri Grameen Bank yaitu Muhammad Yunus. Dalam konsepnya ia mengembangkan pinjaman skala kecil untuk usahawan miskin yang tidak mampu meminjam dari bank Umum. Game ini dimainkan oleh mahasiswa dengan cara mengumpulkan uang sebesar Rp1000 per mahasiswa sebagai modal pada setiap pertemuannya. Setelah uang terkumpul, mahasiswa yang mendapat giliran akan di beri modal Rp10.000 untuk melakukan usaha. Kami diberi waktu selama seminggu dalam menjalankan game ini. Peraturannya, siapa yang berhasil mengumpulkan keuntungan minimal Rp50.000 atau lebih, maka mahasiswa itu berhasil menjalankan game ini.


Pada kesempatan kali ini, giliran saya yang menjalani game ini. Dalam game ini, saya melakukan usaha jual kartu paket data internet (Simpati). Saya memilih usaha ini karena banyaknya permintaan masyarakat akan akses internet. Zaman sekarang semakin tumbuhnya penggunaan smartphone/gadget, masyarakat membutuhkan internet untuk chatting, browsing, mencari informasi, download film, berita dan lain-lain. Modal yang diberikan saya gunakan untuk membeli 2 buah kartu perdana Simpati yang harganya Rp5.000 per kartu. Dari kartu tersebut saya bisa mengisi besaran paket data yang diminta oleh konsumen, antara lain:

·         Paket 1,5GB/30hari  ----> Rp18.000
·         Paket 2GB/30hari  ----> Rp22.000
·         Paket 2,5GB/30hari  ----> Rp30.000
·         Paket 4,5GB/30hari  ----> Rp50.000
·         Paket 5,5GB/30hari  ----> Rp60.000

Dalam mengisi paket ini saya diajari oleh teman saya yang kebetulan penjual kartu internet. Saya memulai game ini pada hari senin, 13 September 2014.

Ø  Hari Senin, 13 September 2014
Saya mendapat 2 pelanggan memesan paket sebesar 2GB, total kartu yang terjual Rp44.000, jadi keuntungan saya hari ini Rp44.000-Rp10.000=Rp34.000 .

Ø  Hari Selasa, 14 September 2014
Dari keuntungan sebesar Rp34.000 tadi, saya membeli 4 kartu lagi {(Rp34.000)-(4)(Rp5.000)}=Rp14.000 (sisa keuntungan). Pada hari ini, saya mendapat 3 pesanan untuk paket 2GB dan 1 untuk paket 4,5GB. Total kartu yang terjual Rp116.000. Jadi keuntungan bersih saya hari ini Rp116.000-Rp20.000=Rp96.000. Jika ditambah sisa keuntungan hari sebelumnya, maka total keuntungan Rp96.000+Rp14.000=Rp110.000 .

Ø  Hari Rabu, 15 September 2014
Pada hari ini saya tidak melakukan kegiatan penjualan seperti hari-hari sebelumnya. Maka keuntungan saya tetap Rp110.000 .

Ø  Hari Kamis, 16 September 2014
Hari ini saya membeli 5 buah kartu {(Rp110.000)-(5)(Rp5000)=Rp85.000 (sisa keuntungan) dan mendapat 2 pesanan, yaitu paket 2GB dan 2,5GB. Jadi ada sisa 3 kartu lagi yang belum terjual. Total kartu yang terjual Rp52.000. Maka keuntungan bersih saya hari ini Rp85.000+Rp52.000-Rp25.000-Rp15.000=Rp97.000 .


Jadi kesimpulannya, dengan modal Rp10.000 saya meraup untung sebesar Rp97.000 .

Selasa, 14 Oktober 2014

Pertanyaan Seputar Kemiskinan

Why is important to have an adequate definition of poverty?
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Maka dengan begitu kita dapat memahami apa definisi dari kemiskinan dan mengerti langkah apa saja untuk mengatasi kemiskinan.

Why is it that can make the definition of poverty a source of political debate?
Pada dasarnya ada dua faktor penting yang dapat menyebabkan kegagalan program pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan. Pertama, program-program penanggulangan kemiskinan selama ini cenderung berfokus pada upaya penyaluran bantuan sosial untuk orang miskin.Hal itu, antara lain, berupa beras untuk rakyat miskin dan barang-barang sembako lainnya. Upaya seperti ini akan sulit menyelesaikan persoalan kemiskinan yang ada karena sifat bantuan tidaklah untuk pemberdayaan, bahkan dapat menimbulkan ketergantungan.
Program-program bantuan yang berorientasi pada kedermawanan pemerintah ini justru dapat memperburuk moral dan perilaku masyarakat miskin. Program bantuan untuk orang miskin seharusnya lebih difokuskan untuk menumbuhkan budaya ekonomi produktif dan mampu membebaskan ketergantungan penduduk yang bersifat permanen. Di lain pihak, program-program bantuan sosial ini juga dapat menimbulkan korupsi dalam penyalurannya.
Faktor kedua yang dapat mengakibatkan gagalnya program penanggulangan kemiskinan adalah kurangnya pemahaman berbagai pihak tentang penyebab kemiskinan itu sendiri sehingga program-program pembangunan yang ada tidak didasarkan pada isu-isu kemiskinan, yang penyebabnya berbeda-beda secara lokal.

What moral questions are raised  by the existence of poverty in our society?
Pertanyaan yang tepat untuk persoalan kemiskinan ini adalah “apa rencana yang harus dilakukan untuk mengatasi kemiskinan? atau “program-program apa saja yang harus di bentuk guna menekan jumlah angka kemiskinan?”. Banyaknya program-program yang telah disusun oleh pemerintah seharusnya dapat menanggulangi angka kemiskinan yang semakin tinggi ini.

Why should we care about poverty in Aceh?
Sebagai warga Aceh, sudah sewajibnya kita peduli terhadap daerah kita sendiri dalam mengatasi kemiskinan. Padahal Aceh termasuk 7 daerah terkaya di Indonesia, namun ironisnya  Aceh juga termasuk ke dalam 7 daerah termiskin di Indonesia. Program-program yang dibentuk haruslah terencana dengan baik sehingga tepat sasaran. Pemerintah Aceh harus dapat mengawasi dan mengelola dengan baik dana dari Otonomi Khusus yang diberikan oleh pemerintah pusat, antara lain untuk pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi rakyat, pengetasan kemiskinan, pendanaan pendidikan, sosial dan kesehatan serta digunakan juga untuk keistimewaan Aceh. Apabila program ini berjalan dengan baik, maka Aceh bisa menjadi daerah yang produktif dan sejahtera.


Rabu, 08 Oktober 2014

Kemiskinan Di Sekitar Kita

Pada kesempatan ini, saya akan membahas tentang “Kemiskinan di Sekitar Kita”, tepatnya di daerah tempat saya tinggal. Tapi sebelumnya saya akan menuliskan sedikit tentang definisi kemiskinan.

Definisi Kemiskinan
            Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:

            Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi. Gambaran kemiskinan jenis ini lebih mudah diatasi daripada dua gambaran yang lainnya.
Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia. Gambaran tentang ini dapat diatasi dengan mencari objek penghasilan di luar profesi secara halal. Perkecualian apabila institusi tempatnya bekerja melarangnya. Pada dasarnya bentuk/jenis kemiskinan dapat dikelompokkan menjadi tiga pengertian, yaitu:

Kemiskinan Absolut
Seseorang dikategorikan termasuk ke dalam golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum, yaitu: pangan, sandang, kesehatan, papan, dan pendidikan.

Kemiskinan Relatif
Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan tetapi masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya. Kemiskinan ini dilihat dari aspek ketimpangan sosial, karena ada orang yang sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar minimumnya tetapi masih jauh lebih rendah dibanding masyarakat sekitarnya (lingkungannya). Semakin besar ketimpangan antara tingkat penghidupan golongan atas dan golongan bawah maka akan semakin besar pula jumlah penduduk yang dapat dikategorikan miskin, sehingga kemiskinan relatif erat hubungannya dengan masalah distribusi pendapatan.

Kemiskinan Kultural
Kemiskinan ini berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.

Kemiskinan di Sekitar Kita
Sekarang saya akan membahas kemiskinan di sekitar tempat saya tinggal. Saya tinggal di daerah Blower yang masih berada dalam lingkup Kota Banda Aceh. Pada dasarnya, warga-warga di Blower ini memiliki pendapatan yang lumayan untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Terus terang saja, saya sangat sulit menemukan satu keluarga yang masih hidup dalam kemiskinan. Setelah menyusuri lorong-lorong kecil, akhirnya saya menemukan satu keluarga yang kebutuhan hidupnya masih jauh dari kata cukup. Keluarga ini terdiri dari seorang ibu dan dua orang anak perempuan, yang paling tua berumur 14 tahun dan satunya lagi berumur 7 tahun. Suami dari ibu tersebut telah meninggal sekitar 3 tahun yang lalu. Pekerjaan sehari-hari dari ibu ini adalah sebagai pembantu di salah satu rumah warga. Pendapatannya dalam sebulan hanya Rp750.000,-/bulan. Si ibu harus bekerja dari pagi hari sampai sore menjelang maghrib. Sedangkan kedua anaknya masih bersekolah di tingkat SMP dan SD. Dengan pendapatannya saat ini, sang ibu harus pandai mengatur keuangannya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, termasuk biaya untuk keperluan kedua anaknya dan sewa rumah (tidak ingin disebutkan harganya). Sang ibu berharap agar kedua anaknya kelak di masa depan bisa sukses dan merubah nasib dari keluarganya menjadi lebih baik.


Inilah yang dapat saya bahas dari “Kemiskinan di Sekitar Kita” yang berlokasi di Blower. Dengan pembahasan saya ini, mudah-mudahan bisa bisa jadi pembelajaran dalam memaknai hidup. Kita harus mensyukuri apa yang telah kita miliki, terkadang kita masih mengeluh terhadap apa yang kita miliki. Padahal di sekitar kita masih ada orang yang memiliki kekurangan dan membutuhkan perhatian kita. Sudah saatnya kita peduli kepada sesama manusia dan memberikan bantuan bagi mereka yang membutuhkan.

Kamis, 02 Oktober 2014

Aceh Sebagai 7 Terkaya dan Termiskin

               Jika menilik dari judul diatas, maka akan kita temukan suatu makna yang menarik yaitu bagaimana bisa suatu daerah yang diklaim sebagai kelompok daerah terkaya dari segi APBD tetapi dalam waktu yang bersamaan juga dicap sebagai daerah termiskin di negara tercinta ini. Pada kasus ini, maka dapat ditilik bahwa Aceh sebenarnya masih terdapat banyak kekurangan di dalam pengelolaan anggaran daerah. Tidak maksimalnya pengelolaan anggaran inilah yang akhirnya malah menjadi bumerang yang menyerang balik kondisi perekonomian dan pembangunan di Aceh. Penggunaan APBD harusnya bersifat efisien dan tepat sasaran agar tidak terjadinya blunder pada proses pengelolaannya, misalnya saja pengelolaan haruslah difokuskan pada program-program peningkatan kesejahteraan masyarakat seperti penyediaan lapangan kerja, penyediaan modal-modal usaha, pembangunan fasilitas penunjang, peningkatan standar pendidikan, dan lain sebagainya. Bukannya malah digunakan bagi kepentingan kaum-kaum tertentu saja seperti kunjungan kerja anggota dewan yang tidak jelas tujuan kepentingannya ataupun penyediaan fasilitas-fasilitas elit bagi para pejabat daerah.

            Jika berbicara mengenai pengelolaan Anggaran daerah Aceh ini, maka tidak akan pernah ada habisnya untuk dibahas. Tiap lapisan masyarakat mulai dari kaum elit berpendidikan hingga golongan mahasiswa dan anak kost-an pastinya kerap menjadikan wacana ini sebagai bahan perbincangan, baik itu sekedar perbincangan ringan di warung-warung kopi maupun perbincangan besar berskala seminar. Lantas apa sebenarnya langkah yang harus ditempuh Aceh di dalam pengelolaan anggaran daerah? Berikut langkah-langkah realitas yang berlaku di Aceh.


Meningkatakan Taraf Pendidikan  

            Pendidikan merupakan elemen paling dasar di dalam upaya peningkatan kualitas SDM lokal, jika ingin mendapatkan SDM yang berkualitas maka suatu daerah haruslah memiliki standar pendidikan yang berkualitas pula. SDM yang baik tentunya akan menggerek kemajuan daerah ke arah yang positif, ini terwujud berkat munculnya berbagai inovasi dari para SDM yang berkualitas itu sendiri. Di jaman global ini, suatu negara diukur kekayaannya bukan lagi dari kualitas SDA-nya melainkan dari kualitas SDM-nya. Aceh dengan besarnya anggaran daerah seharusnya dapat untuk menyediakan pendidikan yang cukup berkualitas demi pembaharuan kualitas SDM di bumi rencong ini ke arah yang lebih baik.


Penyediaan Lapangan Kerja

            Tingkat pengangguran di Aceh masih cukup tinggi, maka pengadaan lapangan kerja merupakan suatu keharusan bagi pejabat daerah. Banyaknya masyarakat yang bekerja tentunya akan meningkatkan standar hidup masyarakat di Aceh sendiri, dan hal ini pada akhirnya juga akan dapat meningkatkan pendapatan daerah.


Jaminan Kesehatan

            Memang pada saat ini, sudah tersedia JKA (Jaminan Kesehatan Masyarakat) dengan proses pelayanan yang cukup baik, tapi yang menjadi permasalahan sekarang adalah kontinuitas dari program ini sendiri. Program ini haruslah berjalan dengan baik dan secara terus menerus, sehingga masyarakat dapat menikmati pelayanan kesehatan dengan harga terjangkau di setiap waktu. Program ini harus dilanjutkan secara estafet di setiap periode kepemimpinan di aceh.


Pengusutan Kasus-Kasus Korupsi

            Di Indonesia, Aceh dinyatakan sebagai daerah nomor dua terkorup setelah Jakarta. Pada kenyataan ini, maka dapat diprediksikan bahwa terdapat sejumlah dana dari anggaran daerah yang masuk kantong pihak-pihak yang tidak berhak. Oleh karena itu pengusutan secara tuntas haruslah dilakukan agar pihak-pihak tersebut dapat dihukum dan ini sekaligus memberikan pelajaran bagi yang lainnya agar tidak mempraktikkan korupsi sehingga tidak ada anggaran yang jebol.